Penghasil Gula Merah Di Bone Mengikuti Lomba Desa Tingkat Provinsi Sul-Sel

Suasana acara perlombaan desa Bana
Pict by Kires

Beberapa program pemberdayaan telah memasuki tahap pelaporan satu tahun dan saya rehat sejenak untuk menyusun rencana kegiatan selanjutnya. Saya mengingat bahwa hari ini harus menghadiri kegiatan teman fasilitator di desa dampingan yang berada di desa Bana tepatnya Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone. Letak geografis desa Bana berada di bagian Bone Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai. Secara topografi, jalur akses untuk sampai ke desa Bana cukup ekstrim. Dikelilingi hamparan gunung, sisi kiri dan kanan jurang dan infrastruktur jalan berbatu dan sempit membuat jarak tempuh untuk tiba di kota desa Bana menghabiskan waktu sekitar satu jam padahal jaraknya dari kelurahan Palattae hanya 12 km.

Karena mobil yang kami kendarai tidak memungkinkan untuk menanjaki jalan ke Bana, kami melihat beberapa mobil pak Polisi berjejeran menunggu tim penilai dari provinsi. Cukup ramah Bapak Polisi ini mereka menawari kami untuk menumpangi kendaraannya. Karena saya seorang perempuan jadi wajib untuk duduk di depan ujar Pak Polisi. Makasih Pak, yah! Tak lama menunggu seluruh anggota menaiki sisi belakang mobil tiba-tiba mereka membatalkan keberangkatan karena muatan terlalu banyak dan sang Driver kurang yakin dengan kondisi jalan karena licin pasca hujan semalam. Terpaksa saya menunggu mobil yang siap melewati jalur evakuasi lagi.

Saya beruntung bisa menaiki mobil salah satu pejabat Kabupaten Bone, tak sempat kenalan karena kondisi jalan yang begitu parah membuat saya tegang dan hanya bisa diam sambil berucap mengingat Tuhan ketika ban mobil sedikit terpeleset. Sambil menikmati pemandangan yang begitu asri, wajah para warga yang lugu menyambut para pejabat dan mobil mewah yang melintas di depan rumah mereka. Rasa bangga dan haru terlihat dari senyum mereka ketika melihat para pejabat dan orang baru memasuki wilayahnya.

Melihat beberapa mobil plat merah terparkir rapi di sisi lapangan, para anak sekolahan berseragam lengkap merah putih menunggu kedatangan tim provinsi menjadi pemandangan yang begitu mewah. Beberapa warga mulai berdatangan menghampiri tenda yang telah disediakan oleh aparat pemerintahan, mereka ingin menyaksikan wajah para pejabat pemerintahan kabupaten Bone dan Provinsi Sulawesi selatan.

Masyarakat mulai berdatangan
Pict by Kires
Anak sekolah dasar menyambut kedatangan tim penilai
Pict by Kires

Bana berasal dari dua kata lokal, ba artinya iya dan na artinya panggilan untuk anak. Bana adalah iya anak yang berarti menyepakati semua program yang dijalankan pemerintah atau pejabat tertinggi yang sejalan dengan visi masyarakat setempat. Begitu kata pak Ishak selaku kepala desa Bana yang secara perawakan cukup mirip dengan bapak Presiden RI saat ini. Desa bana terbagi atas enam dusun yakni dusun Oro, Bana Tengah, Bana, Paku, Cippaga dan Pao.

Selain program pemerintah yang dijalankan beberapa kegiatan lain diinisiasi langsung oleh masyarakat desa yang mereka sebut sebagai program Siamasei. Program Siamasei adalah program partisipasi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya warga lokal. Beberapa program produktif telah dibuat oleh masyarakat seperti teknologi tepat guna yakni pupuk organik cair, pestisida alami dan mengembangkan industri rumah tangga yaitu jahe instan pada tahun 2014 dipelopori oleh penggerak PKK. Sejak turun temurun desa Bana terkenal dengan penghasil madu dan gula merah, selain itu tahun 2015 desa Bana telah menghasilkan durian otong seluas 5 ha yang dibudidayakan sendiri oleh petani lokal. Ini yang menjadi ikon tersendiri desa Bana dan memasarkan beberapa hasil produk hasil bumi yang melimpah dalam ajang perlombaan desa tingkat provinsi.

Yang menarik perhatian saya selama mengelilingi kota desa Bana, semua pintu rumah warga terpasang pentongan dan ember kecil yang bergantung disisi dinding rumah. Saya bertanya dan akhirnya mendapat jawaban dari salah satu warga yang melintas. Maksud dari pentongan tersebut adalah alat untuk membunyikan ketika terdapat tanda bahaya, sedangkan ember kecil itu adalah ketika pemilik rumah hendak memasak untuk asupan setiap hari mereka menyisihkan beras segenggam untuk disimpan di ember tersebut. Gunanya ketika terkumpul banyak, beras tersebut diberikan ke kaum duafa dan tetangga yang membutuhkan. Benar-benar mulia, kesederhanan mereka tidak membuat jiwa kedermawanan dihilangkan dan betul bahwa kepedulian antar sesama menjadi tradisi masyarakat desa lokal. Sangat inspiratif!

Salah satu rumah warga yang memasang pentongan dan ember 
sebagai tradisi desa Bana
Pict by Kires

Dan, desa yang memenangkan lomba akan menjadi desa percontohan diseluruh provinsi sulawesi selatan, semoga desa Bana bisa menjadi perwakilan. 

Beberapa agenda seremonial sudah saya ikuti, saatnya beranjak pulang dan harus kembali mencari tumpangan untuk ke kelurahan Bontocani. Dua orang teman saya kembali menaingi mobil aparat kepolisian dan saya, lagi! merasakan duduk di kursi mobil mewah Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Bone. Terima Kasih, Lagi.


You Might Also Like

0 komentar